Senin, 22 Oktober 2018

7 Tanda Hubungan Jarak Jauh LDR Tidak Akan Awet

Bukan lagi rahasia bahwa hubungan jarak jauh alias long distance relationship (LDR) berat untuk dijalani. Ada masa-masa menyenangkan sekaligus sulit di dalamnya.

Tak semua pasangan bisa melalui 'ujian' emosi saat menjalani LDR, apalagi jika di sekitar kita banyak juga yang sebenarnya mulai mengirim sinyal "pendekatan". Ada yang berusaha mempertahankannya, namun sebenarnya hubungan jarak jauh mereka sudah tak baik.

Berikut tujuh tanda bahwa kamu dan pasangan mungkin belum siap menjalani hubungan jarak jauh:

1. Tidak saling percaya

Kepercayaan adalah kunci dari LDR. Sebab, kalian akan sama-sama jarang bertemu, mendengar suara satu sama lain, dan hal lainnya secara fisik. Kadang, kondisi tersebut membuatmu berandai-andai, bahkan meragukan kesetiaan pasangan. Ini akan memberi dampak serius pada hubungan kalian.

Menurut penelitian Northwestern University dan Redeemer University College di Ontario, Kanada, mereka yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap pasangannya cenderung bisa mempertahankan hubungannya. Tak peduli di manapun pasangan berada.

Namun, keraguan dan ketakutan yang muncul dalam sebuah hubungn bisa datang dari mana saja. Jika kamu merasakannya, ada baiknya bertanya pada diri sendiri darimana keraguan itu berasal.

Akan lebih baik jika kamu juga berkomunikasi soal perasaanmu pada pasangan, mendengarkan pandangannya, dan semoga hal itu bisa menenangkan perasaanmu.

2. Tidak merencanakan masa depan

Harus selalu ada tujuan untuk hubungan yang sedang kami jalani, baik jangka pendek maupun panjang. Membuat perencanaan bisa menjadi hal yang nenyenangkan dan menunjukkan upaya masing-masing untuk maju dan memberikan prioritas terhadap kelangsungan hubungan kalian.

Jika kamu dan pasangan tidak bisa menghadapi masa depan atau belum bisa memutuskan apa yang dicari oleh masing-masing, itu bukan pertanda baik. Sebab komunikasi yang sehat penting untuk membuat LDR berjalan dengan baik.

3. Buat kesepakatan tempat tinggal

Mungkin kamu sudah sangat cinta dengan kota tempat tinggalmu saat ini atau kota tempatmu bertemu dengan pasangan. Tapi di sisi lain, pasanganmu juga mungkin merasakan hal yang sama dengan kota yang ditinggalinya dan berharap kamu mau tinggal di sana bersamanya.

Apapun kondisinya, penting bagimu dan pasangan untuk membuat kesepakatan atau janji soal dimana kalian berdua akan tinggal ke depannya, kecuali kalian memang ingin menjalani LDR untuk seterusnya.

Coba lah pikirkan jalan keluarnya. Terlebih jika salah satu dari kalian sangat suka tinggal di tempat saat ini.

4. Tidak jujur

Kejujuran sangat penting dalam menjalani LDR. Sebaiknya kamu menyampaikan segala hal, dari yang besar hingga terkecil kepada pasangan. Bahkan termasuk perasaan sedih atau kehilangan yang mungkin dirasakan karena pasanganmu tidak ada di sampingmu.

Sampaikan dan diskusikan jika perlu agar komunikasimu dan pasangan tetap sehat.

Queen Harrison, atlet olimpik yang juga menjalani LDR mengamininya, bahwa perasaan aman dan jujur dengan perasaan sendiri sangat ah penting.

"Jika ada sesuatu yang mengganggumu, komunikasikanlah. Jika kamu tidak mengkomunikasikannya dan membiarkan perasaan itu terus mengganggumu, maka ke depannya akan semakin parah," kata Harrison kepada INSIDER.

Jika perasaan itu dibiarkan bertumpuk, kamu bisa saja 'meledak' suatu hari nanti kemudian memicu argumentasimu dan pasangan. Hubungan kalian kemudian akn menjadi tidak produktif.

"Bangunlah apa yang dibutuhkan satu sama lain, cobalah memenuhi apa yang dibutuhkan tersebut dan sampaikan jika hal yang dibutuhkan tersebut tidak tercapai," ujar peneliti LDR dan pelajar psikologi klinik Emma Dargie kepada Business Insider.

5. Berharap kesempurnaan

Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga kamu dan pasanganmu. Kamu akan mendapatkan banyak ujian saat menjalani LDR. Mulai dari frustasi, gangguan dan kebingungan. Semuanya adalah proses.

Akan menjadi lebih berat saat kalian tiba pada momentum pertemuan. Salah satu dari kalian mungkin mengharapkan momentum 'reuni' yang sempurna, tapi yang terjadi tak seperti harapan atau bahkan menimbulkan kecanggungan.

"Apakah kalian akan pergi bersama dan mengundang teman-teman untuk lebih bersosialisasi atau berdiam di rumah untuk berdua saja? Apakah keluargamu mau menghabiskan waktu dengan pasanganmu? Apakah kamu atau pasanganmu masih memiliki tumpukan pekerjaan saat bertemu? Dan lain sebagainya," kata Allison Bowsher, penulis bidang hiburan kepada Huffpost.

Beberapa pertemuan akan terasa berkesan dan menyenangkan. Namun tak jarang pula pertemuan yang justru memicu pertengkaran sehingga isu kecil dan besar menjadi berkembang. Termasuk apakah kalian berdua masih perlu mempertahankan hubungan.

6. Tidak mau mencoba

Ada waktu-waktu dimana kamu dan pasangan harus saling menyesuaikan apa yang diinginkan masing-masing, kapan sebaiknya bicara, hingga kapan sebaiknya bertemu satu sama lain.

Tidak banyak waktu yang ada untuk memberikan perhatian satu sama lain.

"Kalian harus bisa membangun hubungan yang kuat jika menjalani LDR. Terbuka lah, jujut dan saling percaya," kata blogger Alexandra Starkovic kepada Huffpost.

Alexandra menyarankan untuk memperkuat komunikasi satu sama lain dan membuat pasangan merasa spesial bahkan tanpa harus bertemu.

7. Tak punya pikiran positif terhadap hubungn dengan pasangan

Lihatlah sisi baiknya, kalian memiliki satu sama lain. Kalian melalui masa-masa sulit, tapi justru bisa membuat kalian semakin kuat dan bahagia pada akhirnya.

Selain itu, ini juga bisa membuatmu lebih mengenal diri sendiri dan memahami pandangan soal hubunganmu.

Jika sisi baik itu tak kamu lihat, mungkin ada baiknya untuk mengevaluasi kembali apa yang saat ini kamu lakukan. Juga apakah hubunganmu dan pasangan sehat, positif dan ada di tempat yang seharusnya.

7 Tanda Hubungan Jarak Jauh LDR Tidak Akan Awet

7 Tanda Hubungan Jarak Jauh LDR Tidak Akan Awet

Bukan lagi rahasia bahwa hubungan jarak jauh alias long distance relationship (LDR) berat untuk dijalani. Ada masa-masa menyenangkan sekaligus sulit di dalamnya.

Tak semua pasangan bisa melalui 'ujian' emosi saat menjalani LDR, apalagi jika di sekitar kita banyak juga yang sebenarnya mulai mengirim sinyal "pendekatan". Ada yang berusaha mempertahankannya, namun sebenarnya hubungan jarak jauh mereka sudah tak baik.

Berikut tujuh tanda bahwa kamu dan pasangan mungkin belum siap menjalani hubungan jarak jauh:

1. Tidak saling percaya

Kepercayaan adalah kunci dari LDR. Sebab, kalian akan sama-sama jarang bertemu, mendengar suara satu sama lain, dan hal lainnya secara fisik. Kadang, kondisi tersebut membuatmu berandai-andai, bahkan meragukan kesetiaan pasangan. Ini akan memberi dampak serius pada hubungan kalian.

Menurut penelitian Northwestern University dan Redeemer University College di Ontario, Kanada, mereka yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap pasangannya cenderung bisa mempertahankan hubungannya. Tak peduli di manapun pasangan berada.

Namun, keraguan dan ketakutan yang muncul dalam sebuah hubungn bisa datang dari mana saja. Jika kamu merasakannya, ada baiknya bertanya pada diri sendiri darimana keraguan itu berasal.

Akan lebih baik jika kamu juga berkomunikasi soal perasaanmu pada pasangan, mendengarkan pandangannya, dan semoga hal itu bisa menenangkan perasaanmu.

2. Tidak merencanakan masa depan

Harus selalu ada tujuan untuk hubungan yang sedang kami jalani, baik jangka pendek maupun panjang. Membuat perencanaan bisa menjadi hal yang nenyenangkan dan menunjukkan upaya masing-masing untuk maju dan memberikan prioritas terhadap kelangsungan hubungan kalian.

Jika kamu dan pasangan tidak bisa menghadapi masa depan atau belum bisa memutuskan apa yang dicari oleh masing-masing, itu bukan pertanda baik. Sebab komunikasi yang sehat penting untuk membuat LDR berjalan dengan baik.

3. Buat kesepakatan tempat tinggal

Mungkin kamu sudah sangat cinta dengan kota tempat tinggalmu saat ini atau kota tempatmu bertemu dengan pasangan. Tapi di sisi lain, pasanganmu juga mungkin merasakan hal yang sama dengan kota yang ditinggalinya dan berharap kamu mau tinggal di sana bersamanya.

Apapun kondisinya, penting bagimu dan pasangan untuk membuat kesepakatan atau janji soal dimana kalian berdua akan tinggal ke depannya, kecuali kalian memang ingin menjalani LDR untuk seterusnya.

Coba lah pikirkan jalan keluarnya. Terlebih jika salah satu dari kalian sangat suka tinggal di tempat saat ini.

4. Tidak jujur

Kejujuran sangat penting dalam menjalani LDR. Sebaiknya kamu menyampaikan segala hal, dari yang besar hingga terkecil kepada pasangan. Bahkan termasuk perasaan sedih atau kehilangan yang mungkin dirasakan karena pasanganmu tidak ada di sampingmu.

Sampaikan dan diskusikan jika perlu agar komunikasimu dan pasangan tetap sehat.

Queen Harrison, atlet olimpik yang juga menjalani LDR mengamininya, bahwa perasaan aman dan jujur dengan perasaan sendiri sangat ah penting.

"Jika ada sesuatu yang mengganggumu, komunikasikanlah. Jika kamu tidak mengkomunikasikannya dan membiarkan perasaan itu terus mengganggumu, maka ke depannya akan semakin parah," kata Harrison kepada INSIDER.

Jika perasaan itu dibiarkan bertumpuk, kamu bisa saja 'meledak' suatu hari nanti kemudian memicu argumentasimu dan pasangan. Hubungan kalian kemudian akn menjadi tidak produktif.

"Bangunlah apa yang dibutuhkan satu sama lain, cobalah memenuhi apa yang dibutuhkan tersebut dan sampaikan jika hal yang dibutuhkan tersebut tidak tercapai," ujar peneliti LDR dan pelajar psikologi klinik Emma Dargie kepada Business Insider.

5. Berharap kesempurnaan

Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga kamu dan pasanganmu. Kamu akan mendapatkan banyak ujian saat menjalani LDR. Mulai dari frustasi, gangguan dan kebingungan. Semuanya adalah proses.

Akan menjadi lebih berat saat kalian tiba pada momentum pertemuan. Salah satu dari kalian mungkin mengharapkan momentum 'reuni' yang sempurna, tapi yang terjadi tak seperti harapan atau bahkan menimbulkan kecanggungan.

"Apakah kalian akan pergi bersama dan mengundang teman-teman untuk lebih bersosialisasi atau berdiam di rumah untuk berdua saja? Apakah keluargamu mau menghabiskan waktu dengan pasanganmu? Apakah kamu atau pasanganmu masih memiliki tumpukan pekerjaan saat bertemu? Dan lain sebagainya," kata Allison Bowsher, penulis bidang hiburan kepada Huffpost.

Beberapa pertemuan akan terasa berkesan dan menyenangkan. Namun tak jarang pula pertemuan yang justru memicu pertengkaran sehingga isu kecil dan besar menjadi berkembang. Termasuk apakah kalian berdua masih perlu mempertahankan hubungan.

6. Tidak mau mencoba

Ada waktu-waktu dimana kamu dan pasangan harus saling menyesuaikan apa yang diinginkan masing-masing, kapan sebaiknya bicara, hingga kapan sebaiknya bertemu satu sama lain.

Tidak banyak waktu yang ada untuk memberikan perhatian satu sama lain.

"Kalian harus bisa membangun hubungan yang kuat jika menjalani LDR. Terbuka lah, jujut dan saling percaya," kata blogger Alexandra Starkovic kepada Huffpost.

Alexandra menyarankan untuk memperkuat komunikasi satu sama lain dan membuat pasangan merasa spesial bahkan tanpa harus bertemu.

7. Tak punya pikiran positif terhadap hubungn dengan pasangan

Lihatlah sisi baiknya, kalian memiliki satu sama lain. Kalian melalui masa-masa sulit, tapi justru bisa membuat kalian semakin kuat dan bahagia pada akhirnya.

Selain itu, ini juga bisa membuatmu lebih mengenal diri sendiri dan memahami pandangan soal hubunganmu.

Jika sisi baik itu tak kamu lihat, mungkin ada baiknya untuk mengevaluasi kembali apa yang saat ini kamu lakukan. Juga apakah hubunganmu dan pasangan sehat, positif dan ada di tempat yang seharusnya.

Senin, 08 Oktober 2018

3 Faktor yang Membuat UU Perlindungan Data Pribadi Belum Disahkan

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus memperjuangkan agar Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) segera disahkan.

Kendati demikian, aturan yang dinilai krusial di era digital tersebut belum juga masuk sebagai prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2018.

Menkominfo Rudiantara menjelaskan, sudah sering berbicara dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) soal RUU PDP. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan RUU PDP belum juga terealisasi.

Pertama, banyak RUU lain yang menumpuk di DPR dan belum tuntas dibahas. RUU itu jumlahnya puluhan, lintas sektor, dan merupakan "utang" pembahasan dari tahun-tahun sebelumnya.

"Karena masih banyak RUU yang belum selesai, makanya tahun ini dibatasi hanya 5 (RUU baru untuk masuk Prolegnas). Tapi kan kami lakukan pendekatan terus dengan DPR, kami maunya masuk karena urgensinya tinggi," Rudiantara menuturkan.

"Akhirnya dari lima itu, kalau salah satu sudah selesai dibahas, UU PDP bisa otomatis masuk, nggak usah menunggu Prolegnas," ia menambahkan, Selasa (13/3/2018).

Wakil Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafiz, sepakat bahwa UU PDP harus segera disahkan. Akan tetapi ia juga berdalih ada banyak isu yang tengah dibahas di DPR.

"Di Komisi I saja banyak sekali. Kami masih menunggu penetapan RUU Penyiaran dan RUU Radio Televisi. Keduanya bisa jalan terus karena merupakan inisiatif DPR," ia menjelaskan.

Kedua, pemahaman masyarakat masih kurang tentang UU PDP. Menurut Meutya, perlu ada sosialisasi yang lebih gencar ke masyarakat luas soal pentingnya UU PDP di era digital dengan pertukaran informasi super cepat.

"Prioritas di DPR sangat bergantung tuntutan masyarakat. Public awareness sangat dibutuhkan untuk mempercepat segala proses, termasuk UU PDP," ujarnya.

Meutya menilai saat ini public awareness untuk RUU PDP sedang ramai-ramainya. Hal ini tak lepas dari aturan yang mewajibkan masyarakat melakukan registrasi kartu SIM prabayar dengan NIK dan KK.

Ada beberapa pihak yang khawatir soal keamanan data pribadi mereka. Ada pula konspirasi-konspirasi yang disebar oknum tertentu soal kebocoran data dari registrasi kartu prabayar.

"Keramaian ini harus terus dijaga agar momentumnya pas bagi Kominfo untuk mendesak RUU PDP disahkan," kata Meutya.

Ketiga, lintas kementerian yang terlibat dalam RUU PDP belum seiya-sekata. Menurut anggota tim penyusun RUU PDP, Shinta Dewi, poin-poin pada aturan tersebut sudah lumayan matang. Sanksi atas pelanggarannya pun sudah hampir rampung.

Akan tetapi, pemerintah lintas kementerian masih harus duduk bersama untuk melakukan harmonisasi. Dalam hal ini ada tiga kementerian terlibat. Selain Kominfo, ada pula Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Hukim dan HAM (Kemenkumham).

"Sedang proses harmonisasi yang dimediasi Kemenkumham. Ada beberapa yang belum selesai dengan Kemendagri, mengenai definisi data pribadi dan keinginan mereka untuk dikecualikan dari UU ini karena sudah punya UU Administrasi Kependudukan," Shinta Dewi menerangkan.

Aturan soal perlindungan data pribadi sejatinya sudah ditetapkan dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen) No. 20 Tahun 2016.

Hanya saja, aturan itu lebih bersifat internal, untuk memastikan operator telekomunikasi yang menyimpan data pribadi pelanggan tak memanfaatkannya dengan sewenang-wenang.

UU PDP dianggap semakin penting, mengingat tren big data telah meluas ke berbagai lini. Masyarakat sadar atau tanpa sadar telah menyerahkan informasi personal ke berbagai layanan internet.

Bukan cuma perusahaan swasta yang mengoleksi data pribadi pengguna, melainkan juga pemerintah. Salah satunya dilihat dari kewajiban registrasi kartu SIM prabayar dengan NIK dan KK.

3 Faktor yang Membuat UU Perlindungan Data Pribadi Belum Disahkan

3 Faktor yang Membuat UU Perlindungan Data Pribadi Belum Disahkan

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus memperjuangkan agar Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) segera disahkan.

Kendati demikian, aturan yang dinilai krusial di era digital tersebut belum juga masuk sebagai prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2018.

Menkominfo Rudiantara menjelaskan, sudah sering berbicara dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) soal RUU PDP. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan RUU PDP belum juga terealisasi.

Pertama, banyak RUU lain yang menumpuk di DPR dan belum tuntas dibahas. RUU itu jumlahnya puluhan, lintas sektor, dan merupakan "utang" pembahasan dari tahun-tahun sebelumnya.

"Karena masih banyak RUU yang belum selesai, makanya tahun ini dibatasi hanya 5 (RUU baru untuk masuk Prolegnas). Tapi kan kami lakukan pendekatan terus dengan DPR, kami maunya masuk karena urgensinya tinggi," Rudiantara menuturkan.

"Akhirnya dari lima itu, kalau salah satu sudah selesai dibahas, UU PDP bisa otomatis masuk, nggak usah menunggu Prolegnas," ia menambahkan, Selasa (13/3/2018).

Wakil Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafiz, sepakat bahwa UU PDP harus segera disahkan. Akan tetapi ia juga berdalih ada banyak isu yang tengah dibahas di DPR.

"Di Komisi I saja banyak sekali. Kami masih menunggu penetapan RUU Penyiaran dan RUU Radio Televisi. Keduanya bisa jalan terus karena merupakan inisiatif DPR," ia menjelaskan.

Kedua, pemahaman masyarakat masih kurang tentang UU PDP. Menurut Meutya, perlu ada sosialisasi yang lebih gencar ke masyarakat luas soal pentingnya UU PDP di era digital dengan pertukaran informasi super cepat.

"Prioritas di DPR sangat bergantung tuntutan masyarakat. Public awareness sangat dibutuhkan untuk mempercepat segala proses, termasuk UU PDP," ujarnya.

Meutya menilai saat ini public awareness untuk RUU PDP sedang ramai-ramainya. Hal ini tak lepas dari aturan yang mewajibkan masyarakat melakukan registrasi kartu SIM prabayar dengan NIK dan KK.

Ada beberapa pihak yang khawatir soal keamanan data pribadi mereka. Ada pula konspirasi-konspirasi yang disebar oknum tertentu soal kebocoran data dari registrasi kartu prabayar.

"Keramaian ini harus terus dijaga agar momentumnya pas bagi Kominfo untuk mendesak RUU PDP disahkan," kata Meutya.

Ketiga, lintas kementerian yang terlibat dalam RUU PDP belum seiya-sekata. Menurut anggota tim penyusun RUU PDP, Shinta Dewi, poin-poin pada aturan tersebut sudah lumayan matang. Sanksi atas pelanggarannya pun sudah hampir rampung.

Akan tetapi, pemerintah lintas kementerian masih harus duduk bersama untuk melakukan harmonisasi. Dalam hal ini ada tiga kementerian terlibat. Selain Kominfo, ada pula Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Hukim dan HAM (Kemenkumham).

"Sedang proses harmonisasi yang dimediasi Kemenkumham. Ada beberapa yang belum selesai dengan Kemendagri, mengenai definisi data pribadi dan keinginan mereka untuk dikecualikan dari UU ini karena sudah punya UU Administrasi Kependudukan," Shinta Dewi menerangkan.

Aturan soal perlindungan data pribadi sejatinya sudah ditetapkan dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen) No. 20 Tahun 2016.

Hanya saja, aturan itu lebih bersifat internal, untuk memastikan operator telekomunikasi yang menyimpan data pribadi pelanggan tak memanfaatkannya dengan sewenang-wenang.

UU PDP dianggap semakin penting, mengingat tren big data telah meluas ke berbagai lini. Masyarakat sadar atau tanpa sadar telah menyerahkan informasi personal ke berbagai layanan internet.

Bukan cuma perusahaan swasta yang mengoleksi data pribadi pengguna, melainkan juga pemerintah. Salah satunya dilihat dari kewajiban registrasi kartu SIM prabayar dengan NIK dan KK.