Senin, 26 Maret 2018

Lansia Bermata Sehat Punya Ingatan Lebih Tajam

Penelitian terbaru mengungkap bahwa lansia berumur 60 tahun dengan gangguan penglihatan lebih berisiko mengalami penurunan memori drastis ketika usianya 80 tahun. Ini diketahui dari jurnal Neurology yang terbit pada Rabu (28/2/2018).

Sebanyak 12.317 lansia diikutsertakan dalam penelitian. Mereka menjalani tes ketajaman ingatan dan kemampuan berpikir dalam tiga tahap. Pertama saat awal penelitian. Kedua, 6 tahun usai penelitian pertama. Ketiga, berjarak 20 tahun setelah tes pertama.

Selain itu, setelah tiga tahun tes pertama berlangsung, bagian belakang mata para responden dipantau dan diabadikan menggunakan kamera retina khusus. Obyek penelitian umumnya berusia 60 tahun.

Dari gambar yang diambil, diketahui bahwa sebanyak 11.692 lansia memiliki mata normal tanpa kerusakan pembuluh darah retina (retinopati), sedangkan 365 lainnya menderita retinopati. Lalu, 256 lansia lainnya mengidap retinopati dengan tingkatan sedang hingga parah.

Jennifer A Deal, peneliti dari Universitas John Hopkins, mengatakan, pembuluh darah kecil di otak bisa jadi faktor yang berperan dalam penurunan fungsi kognitif. Namun, pembuktiannya terkendala belum tersedianya alat perekam otak yang bisa memotret pembuluh darah kecil.

“Karena pembuluh darah di mata dan otak sangat mirip secara anatomi, kami merasa meneliti pembuluh darah di mata bisa membantu memahami apa yang berlangsung di otak,” ujar Deal seperti yang dilansir dari Science Daily pada Selasa (6/3/2018).

Hasil penelitian mengungkap, lansia dengan gangguan pelihatan di retina cenderung berkurang pesat kemampuan memorinya, berbeda dengan lansia bermata sehat yang lebih bagus memori otaknya.

 Memori yang dimiliki orang dengan retinoplasti sedang ke parah menyusut sebesar 1,22 unit standar deviasi selama 20 tahun, sedangkan pada orang bermata sehat hanya menurun sebanyak 0,91.

Rentang nilai standar deviasi antara kelompok dengan mata sehat dan kelompok dengan gangguan penglihatan, yakni 0,57. Ini diukur setelah peneliti mengulang perhitungan terhadap lansia yang melewatkan beberapa tes kemampuan berpikir.

Sayangnya, penelitian ini masih terbatas merekam foto satu retina mata.

“Apabila hasil penelitian ini disetujui, kondisi retina bisa menggambarkan berapa banyak kerusakan pembuluh darah kecil di otak. Dari situ bisa diketahui pengaruhnya pada penurun kognitif,” ujar Deal.  

Lansia Bermata Sehat Punya Ingatan Lebih Tajam

Lansia Bermata Sehat Punya Ingatan Lebih Tajam

Penelitian terbaru mengungkap bahwa lansia berumur 60 tahun dengan gangguan penglihatan lebih berisiko mengalami penurunan memori drastis ketika usianya 80 tahun. Ini diketahui dari jurnal Neurology yang terbit pada Rabu (28/2/2018).

Sebanyak 12.317 lansia diikutsertakan dalam penelitian. Mereka menjalani tes ketajaman ingatan dan kemampuan berpikir dalam tiga tahap. Pertama saat awal penelitian. Kedua, 6 tahun usai penelitian pertama. Ketiga, berjarak 20 tahun setelah tes pertama.

Selain itu, setelah tiga tahun tes pertama berlangsung, bagian belakang mata para responden dipantau dan diabadikan menggunakan kamera retina khusus. Obyek penelitian umumnya berusia 60 tahun.

Dari gambar yang diambil, diketahui bahwa sebanyak 11.692 lansia memiliki mata normal tanpa kerusakan pembuluh darah retina (retinopati), sedangkan 365 lainnya menderita retinopati. Lalu, 256 lansia lainnya mengidap retinopati dengan tingkatan sedang hingga parah.

Jennifer A Deal, peneliti dari Universitas John Hopkins, mengatakan, pembuluh darah kecil di otak bisa jadi faktor yang berperan dalam penurunan fungsi kognitif. Namun, pembuktiannya terkendala belum tersedianya alat perekam otak yang bisa memotret pembuluh darah kecil.

“Karena pembuluh darah di mata dan otak sangat mirip secara anatomi, kami merasa meneliti pembuluh darah di mata bisa membantu memahami apa yang berlangsung di otak,” ujar Deal seperti yang dilansir dari Science Daily pada Selasa (6/3/2018).

Hasil penelitian mengungkap, lansia dengan gangguan pelihatan di retina cenderung berkurang pesat kemampuan memorinya, berbeda dengan lansia bermata sehat yang lebih bagus memori otaknya.

 Memori yang dimiliki orang dengan retinoplasti sedang ke parah menyusut sebesar 1,22 unit standar deviasi selama 20 tahun, sedangkan pada orang bermata sehat hanya menurun sebanyak 0,91.

Rentang nilai standar deviasi antara kelompok dengan mata sehat dan kelompok dengan gangguan penglihatan, yakni 0,57. Ini diukur setelah peneliti mengulang perhitungan terhadap lansia yang melewatkan beberapa tes kemampuan berpikir.

Sayangnya, penelitian ini masih terbatas merekam foto satu retina mata.

“Apabila hasil penelitian ini disetujui, kondisi retina bisa menggambarkan berapa banyak kerusakan pembuluh darah kecil di otak. Dari situ bisa diketahui pengaruhnya pada penurun kognitif,” ujar Deal.  

Kamis, 08 Maret 2018

Apa yang Terjadi Pada Ginjal Jika Kebanyakan Minum Air

Ternyata tidak selamanya meminum air putih menyehatkan ginjal. Kebiasaan yang salah dalam meminum air putih bukannya menjaga ginjal tetap sehat, justru memperburuk fungsi ginjal.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Aida Lydia mengungkapkan, masyarakat tidak usah meminum air putih sebanyak-banyaknya. Cara yang tepat adalah menyuplai pasokan air putih sesuai kebutuhan dan aktivitas masing-masing.

Jika terlalu banyak, asupan air putih justru akan memicu penyakit ginjal.

“Banyak minum air putih bisa sebabkan gangguan elektrolit di darah. Kadar natrium dan kalium dalam darah berkurang, sedangkan kadar cairan di tubuh meningkat sel tubuh jadi membengkak,”  ujar Aida saat ditemui dalam temu media Peringatan Hari Ginjal Sedunia di Jakarta pada Rabu (7/3/2018).

Pembesaran sel tubuh ini terjadi karena banyak natrium yang larut dan menghilang dari dalam tubuh. Padahal, natrium bertugas mengikat air.

Akibatnya, volume darah pun berkurang hingga membuat tekanan darah menurun. Selanjutnya, detak jantung terpacu lebih kuat.

Kerja ginjal, kata Aida, juga akan semakin berat karena harus menyaring cairan yang berlebih. Dikhawatirkan, glomerulus pada ginjal tidak kuat melakukan fungsi filtrasi. Dampaknya bisa menimbulkan gangguan pada ginjal.

“Minum air putih bikin ginjal sehat. Tapi tidak sampai berliter-liter. Secukupnya saja, jangan banyak-banyak. Jangan juga kurang. Sesuai kebutuhan tubuh,” ujar Aida.

Apa yang Terjadi Pada Ginjal Jika Kebanyakan Minum Air

Apa yang Terjadi Pada Ginjal Jika Kebanyakan Minum Air

Ternyata tidak selamanya meminum air putih menyehatkan ginjal. Kebiasaan yang salah dalam meminum air putih bukannya menjaga ginjal tetap sehat, justru memperburuk fungsi ginjal.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia Aida Lydia mengungkapkan, masyarakat tidak usah meminum air putih sebanyak-banyaknya. Cara yang tepat adalah menyuplai pasokan air putih sesuai kebutuhan dan aktivitas masing-masing.

Jika terlalu banyak, asupan air putih justru akan memicu penyakit ginjal.

“Banyak minum air putih bisa sebabkan gangguan elektrolit di darah. Kadar natrium dan kalium dalam darah berkurang, sedangkan kadar cairan di tubuh meningkat sel tubuh jadi membengkak,”  ujar Aida saat ditemui dalam temu media Peringatan Hari Ginjal Sedunia di Jakarta pada Rabu (7/3/2018).

Pembesaran sel tubuh ini terjadi karena banyak natrium yang larut dan menghilang dari dalam tubuh. Padahal, natrium bertugas mengikat air.

Akibatnya, volume darah pun berkurang hingga membuat tekanan darah menurun. Selanjutnya, detak jantung terpacu lebih kuat.

Kerja ginjal, kata Aida, juga akan semakin berat karena harus menyaring cairan yang berlebih. Dikhawatirkan, glomerulus pada ginjal tidak kuat melakukan fungsi filtrasi. Dampaknya bisa menimbulkan gangguan pada ginjal.

“Minum air putih bikin ginjal sehat. Tapi tidak sampai berliter-liter. Secukupnya saja, jangan banyak-banyak. Jangan juga kurang. Sesuai kebutuhan tubuh,” ujar Aida.