Senin, 26 Februari 2018

Kondisi Kesehatan Pria Bisa Terlihat dari Jumlah Sperma

Pada pertemuan tahunan ke-100 Endocrine Society di Chicago, peneliti asal Italia mempresentasikan temuan mereka tentang hubungan kualitas sperma  dengan kesehatan.

Mereka menyebut, jumlah sperma yang sedikit berhubungan dengan massa tulang yang lebih rendah, peningkatan risiko kardiovaskular, dan perubahan metabolisme.

Secara umum, jumlah sperma pria adalah penanda kesehatan secara menyeluruh.

Penting diingat, penelitian ini hanya menunjukkan korelasi antara jumlah sperma dan kesehatan dan tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara keduanya.

Peneliti asal Universitas Brescia dan Universitas Padova, Italia, meneliti 5.177 pria asal Italia.

Separuh dari pria yang diteliti memiliki jumlah sperma yang sedikit. Kurang dari 39 juta spermatozoa per ejakulasi.

"Mereka (pria dengan jumlah sperma sedikit) 20 persen lebih mungkin memiliki lemak tubuh yang lebih besar, tekanan darah yang lebih tinggi, punya lebih banyak kolesterol jahat dan trigliserida (jenis lain lemak yang ditanggung darah), dan kekurangan kolesterol baik," kata peneliti dalam presentasinya dilansir IFL Science, Senin (19/3/2018).

Pria dengan jumlah sperma sedikit juga berisiko mengalami sindrom metabolik yang lebih tinggi. Sindrom metabolik mengacu pada kombinasi diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas.

Hal ini memicu stroke, penyakit jantung koroner, dan kondisi lainnya di kemudian hari.

Peneliti juga menemukan pria dengan kondisi semacam ini menunjukkan indikasi resistensi insulin. Ini adalah tanda-tanda awal munculnya diabetes.

"Mereka punya risiko lebih tinggi memiliki kadar testosteron rendah. Pria yang kadar testosteronnya rendah lebih mungkin memiliki massa tulang yang lebih rendah sehingga memicu tulang mudah patah," sambung peneliti.

Singkatnya, jumlah sperma yang sedikit adalah cermin dari kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan.

"Tetapi ingat, jumlah sperma yang sedikit bukan berarti Anda memiliki semua masalah kesehatan yang telah disebutkan. Penelitian ini ingin menunjukkan saat jumlah sperma Anda rendah, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan kesehatan," ujar peneliti.

Kondisi Kesehatan Pria Bisa Terlihat dari Jumlah Sperma

Kondisi Kesehatan Pria Bisa Terlihat dari Jumlah Sperma

Pada pertemuan tahunan ke-100 Endocrine Society di Chicago, peneliti asal Italia mempresentasikan temuan mereka tentang hubungan kualitas sperma  dengan kesehatan.

Mereka menyebut, jumlah sperma yang sedikit berhubungan dengan massa tulang yang lebih rendah, peningkatan risiko kardiovaskular, dan perubahan metabolisme.

Secara umum, jumlah sperma pria adalah penanda kesehatan secara menyeluruh.

Penting diingat, penelitian ini hanya menunjukkan korelasi antara jumlah sperma dan kesehatan dan tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara keduanya.

Peneliti asal Universitas Brescia dan Universitas Padova, Italia, meneliti 5.177 pria asal Italia.

Separuh dari pria yang diteliti memiliki jumlah sperma yang sedikit. Kurang dari 39 juta spermatozoa per ejakulasi.

"Mereka (pria dengan jumlah sperma sedikit) 20 persen lebih mungkin memiliki lemak tubuh yang lebih besar, tekanan darah yang lebih tinggi, punya lebih banyak kolesterol jahat dan trigliserida (jenis lain lemak yang ditanggung darah), dan kekurangan kolesterol baik," kata peneliti dalam presentasinya dilansir IFL Science, Senin (19/3/2018).

Pria dengan jumlah sperma sedikit juga berisiko mengalami sindrom metabolik yang lebih tinggi. Sindrom metabolik mengacu pada kombinasi diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas.

Hal ini memicu stroke, penyakit jantung koroner, dan kondisi lainnya di kemudian hari.

Peneliti juga menemukan pria dengan kondisi semacam ini menunjukkan indikasi resistensi insulin. Ini adalah tanda-tanda awal munculnya diabetes.

"Mereka punya risiko lebih tinggi memiliki kadar testosteron rendah. Pria yang kadar testosteronnya rendah lebih mungkin memiliki massa tulang yang lebih rendah sehingga memicu tulang mudah patah," sambung peneliti.

Singkatnya, jumlah sperma yang sedikit adalah cermin dari kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan.

"Tetapi ingat, jumlah sperma yang sedikit bukan berarti Anda memiliki semua masalah kesehatan yang telah disebutkan. Penelitian ini ingin menunjukkan saat jumlah sperma Anda rendah, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan kesehatan," ujar peneliti.

Senin, 12 Februari 2018

Setelah Sel Tubuh Mati Lalu apa yang Terjadi Setelahnya

Saat sebuah sel mati, ternyata ada sel lain yang bertugas membersihkan bangkainya. Ini di luar dugaan.

Shai Shaham dari Universitas Rockefeller dalam penelitian terbarunya menjelaskan proses kematian dan pembersihan sel tersebut.

Dia dan timnya meneliti sel cacing mikroskopis C elegans. Sel yang diteliti punya bentuk memanjang, disebut tail-spike cell.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Cell Biology mengungkap, proses kematian sel itu cukup unik.

"Anehnya, bagian tengah sel disingkirkan terlebih dahulu," kata Piya Ghose, post doktoral fellow yang terlibat riset.

Kematian sel bermula dari proses memanjang, membulat hingga secara bertahap pecah dan hancur.

"Bagian pemanjangan dekat tengah sel akan membentuk manik-manik, sementara bagian lain teretraksi membentuk bola, kemudian disingkirkan sel lain," kata Ghoose.

Pemahaman proses kematian sel C elegans ini akan membantu peneliti mengerti kematian sel manusia.

"Ada keyakinan proses tersebut juga terjadi pada hewan dan mungkin juga pada penyakit manusia," kata Shaham seperti dikutip Science Daily, Senin (18/3/2018).

Penelitian Shaham membantu para ilmuwan memahami proses fagosit, pembersihan sel-sel mati atau yang mengancam tubuh.

Shaham dan rekannya mengungkapkan cara fagosit bekerja terbantu dengan protein EFF-1. Protein ini memudahkan sel lain memakan sel yang mati.

"Proses perlindungan sel tersebut sudah lama menjadi misteri," kata Shaham.

Setelah Sel Tubuh Mati Lalu apa yang Terjadi Setelahnya

Setelah Sel Tubuh Mati Lalu apa yang Terjadi Setelahnya

Saat sebuah sel mati, ternyata ada sel lain yang bertugas membersihkan bangkainya. Ini di luar dugaan.

Shai Shaham dari Universitas Rockefeller dalam penelitian terbarunya menjelaskan proses kematian dan pembersihan sel tersebut.

Dia dan timnya meneliti sel cacing mikroskopis C elegans. Sel yang diteliti punya bentuk memanjang, disebut tail-spike cell.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Cell Biology mengungkap, proses kematian sel itu cukup unik.

"Anehnya, bagian tengah sel disingkirkan terlebih dahulu," kata Piya Ghose, post doktoral fellow yang terlibat riset.

Kematian sel bermula dari proses memanjang, membulat hingga secara bertahap pecah dan hancur.

"Bagian pemanjangan dekat tengah sel akan membentuk manik-manik, sementara bagian lain teretraksi membentuk bola, kemudian disingkirkan sel lain," kata Ghoose.

Pemahaman proses kematian sel C elegans ini akan membantu peneliti mengerti kematian sel manusia.

"Ada keyakinan proses tersebut juga terjadi pada hewan dan mungkin juga pada penyakit manusia," kata Shaham seperti dikutip Science Daily, Senin (18/3/2018).

Penelitian Shaham membantu para ilmuwan memahami proses fagosit, pembersihan sel-sel mati atau yang mengancam tubuh.

Shaham dan rekannya mengungkapkan cara fagosit bekerja terbantu dengan protein EFF-1. Protein ini memudahkan sel lain memakan sel yang mati.

"Proses perlindungan sel tersebut sudah lama menjadi misteri," kata Shaham.