Senin, 22 Januari 2018

Pentingnya Faktor Dukungan Keluarga Dalam Proses Penyembuhan Kusta

Keluarga berperan penting untuk kesembuhan penderita kusta. Bila keluarga mendukung pengobatan, penderita kusta tertangani lebih baik.

Pengalaman Bakri (39) asal Sigi, Sulawesi Tengah, bisa menjadi contoh. Dia didorong penuh oleh keluarganya untuk berobat.

Bakri terjangkit kusta setelah menikah. Dia beruntung karena istri sama sekali tidak jijik dan memacunya beronbat ke puskesmas.

“Waktu itu tahun 1992, istri malah tidak takut saat saya kena kusta. Ia justru menyuruh saya mendatangi puskesmas,” ujarnya.

Serupa dengan Bakri, keluarga juga melecutkan semangat Sulfikar, pemuda asal Gowa Sulawesi Selatan.

Ia mengaku bersyukur memiliki keluarga yang sudah memahami bahwa penderita kusta tidak pantas dijauhi. Keluarga, sebutnya menjadi pengingat untuk rutin berobat.

“Besar sekali peran keluarga bikin saya sembuh. Mereka selalu mengontrol saya minum obat,” katanya.

Sulfikar yang didiagnosis kusta pada tahun 2013 berhasil terbebas penyakit kusta selang dua tahun kemudian.

Pelaksana Program Kusta Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Ahmadi Arief menuturkan, seseorang yang didiagnosis kusta memerlukan bantuan orang lain untuk pulih.

Keluarga berperan untuk memberikan kebahagiaan yang sempat terenggut setelah divonis kusta.

“Keluarga sangat menentukan stres atau tidaknya pasien kusta. Ini memengaruhi reaksi kusta,” ujarnya.

Reaksi kusta yang dimaksud adalah saat tubuh pasien menunjukkan respon terhadap obat yang dikonsumsi.

Reaksi ini umumnya menimbulkan kulit kering, terkelupas, dan nyeri pada sendi. Reaksi ini cenderung terjadi saat penderita mengalami stres.

Untuk itu, kata Ahamdi, keluarga jangan sampai membuat pasien stres karena dijauhi dan tidak diperhatikan.

Pentingnya Faktor Dukungan Keluarga Dalam Proses Penyembuhan Kusta

Pentingnya Faktor Dukungan Keluarga Dalam Proses Penyembuhan Kusta

Keluarga berperan penting untuk kesembuhan penderita kusta. Bila keluarga mendukung pengobatan, penderita kusta tertangani lebih baik.

Pengalaman Bakri (39) asal Sigi, Sulawesi Tengah, bisa menjadi contoh. Dia didorong penuh oleh keluarganya untuk berobat.

Bakri terjangkit kusta setelah menikah. Dia beruntung karena istri sama sekali tidak jijik dan memacunya beronbat ke puskesmas.

“Waktu itu tahun 1992, istri malah tidak takut saat saya kena kusta. Ia justru menyuruh saya mendatangi puskesmas,” ujarnya.

Serupa dengan Bakri, keluarga juga melecutkan semangat Sulfikar, pemuda asal Gowa Sulawesi Selatan.

Ia mengaku bersyukur memiliki keluarga yang sudah memahami bahwa penderita kusta tidak pantas dijauhi. Keluarga, sebutnya menjadi pengingat untuk rutin berobat.

“Besar sekali peran keluarga bikin saya sembuh. Mereka selalu mengontrol saya minum obat,” katanya.

Sulfikar yang didiagnosis kusta pada tahun 2013 berhasil terbebas penyakit kusta selang dua tahun kemudian.

Pelaksana Program Kusta Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Ahmadi Arief menuturkan, seseorang yang didiagnosis kusta memerlukan bantuan orang lain untuk pulih.

Keluarga berperan untuk memberikan kebahagiaan yang sempat terenggut setelah divonis kusta.

“Keluarga sangat menentukan stres atau tidaknya pasien kusta. Ini memengaruhi reaksi kusta,” ujarnya.

Reaksi kusta yang dimaksud adalah saat tubuh pasien menunjukkan respon terhadap obat yang dikonsumsi.

Reaksi ini umumnya menimbulkan kulit kering, terkelupas, dan nyeri pada sendi. Reaksi ini cenderung terjadi saat penderita mengalami stres.

Untuk itu, kata Ahamdi, keluarga jangan sampai membuat pasien stres karena dijauhi dan tidak diperhatikan.

Senin, 08 Januari 2018

Gorila Yang Bisa Berjalan Tegak Seperti Manusia

Kita tahu, gorila berjalan dengan menggunakan kedua tangan dan kaki yang menyentuh tanah.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk gorila bernama Louis yang tinggal di kebun binatang Philadelphia, Pennsylvania, AS.

Dalam video yang tersebar di Facebook dan Twitter, terlihat jelas Louis dapat berjalan tegak layaknya manusia dengan jarak yang cukup jauh.

"Beberapa gorila akan berjalan tegak jika kedua tangannya menggenggam sesuatu. Umumnya gorila bisa berjalan tegak hanya satu sampai dua langkah," ujar kurator primata dan mamalia kecil, Michael Stern, dilansir National Geographic, Senin (19/3/2018).

Rekaman video yang tersebar menunjukkan gorila dengan berat 500 pound (226 kilogram) dan tinggi 182 sentimeter itu sedang berjalan sambil membawa tomat.

Penjaga kebun binatang yang mengirimkan video Louis ke media sosial berkata, Louis berusaha membuat makanan dan tangannya tetap bersih.

Sejak video Louis tersebar awal bulan ini, ia kemudian dijuluki sebagai gorila germaphobe atau gorila yang sangat memedulikan kebersihan.

Menghindari lumpur

Stern menceritakan penjaga Louis pernah berkata bahwa Louis kerap menghindari lumpur, walaupun tidak membawa makanan sekali pun.

"Ketika sedang badai hujan, ia akan berlari melintasi halaman untuk mencari perlindungan. Saat ia tak sengaja menginjak lumpur, Louis akan mencari daun atau selembar kertas untuk membersihkan tangannya sampai bersih," tulis kebun binatang Philadelphia dalam blognya di tahun 2015.

Dikarenakan perilakunya yang ajaib, pihak kebun binatang akhirnya membuatkan jembatan dari selang pemadam kebakaran di kandangnya agar Louis dapat menghindari genangan lumpur.

Penyebab Louis berjalan tegak

Di tahun 2011, seekor gorila di kebun binatang Inggris membuat heboh karena bisa berjalan tegak seperti manusia.

Saat itu, seorang antropolog dari Universitas Indiana, Kevin Hunt, menjelaskan kepada Live Science bahwa kecenderungan gorila berjalan dengan dua kaki adalah masalah kepribadian.

Hunt berkata, gorila di Inggris ini mengikuti perilaku manusia yang sering dilihatnya.

Perilaku ini selaras dengan teori Hunt bahwa manusia berevolusi menjadi bipedal (menggunakan kaki untuk berjalan, berlari) agar bisa lebih efektif dalam mengumpulkan makanan.

Gorila Yang Bisa Berjalan Tegak Seperti Manusia

Gorila Yang Bisa Berjalan Tegak Seperti Manusia

Kita tahu, gorila berjalan dengan menggunakan kedua tangan dan kaki yang menyentuh tanah.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk gorila bernama Louis yang tinggal di kebun binatang Philadelphia, Pennsylvania, AS.

Dalam video yang tersebar di Facebook dan Twitter, terlihat jelas Louis dapat berjalan tegak layaknya manusia dengan jarak yang cukup jauh.

"Beberapa gorila akan berjalan tegak jika kedua tangannya menggenggam sesuatu. Umumnya gorila bisa berjalan tegak hanya satu sampai dua langkah," ujar kurator primata dan mamalia kecil, Michael Stern, dilansir National Geographic, Senin (19/3/2018).

Rekaman video yang tersebar menunjukkan gorila dengan berat 500 pound (226 kilogram) dan tinggi 182 sentimeter itu sedang berjalan sambil membawa tomat.

Penjaga kebun binatang yang mengirimkan video Louis ke media sosial berkata, Louis berusaha membuat makanan dan tangannya tetap bersih.

Sejak video Louis tersebar awal bulan ini, ia kemudian dijuluki sebagai gorila germaphobe atau gorila yang sangat memedulikan kebersihan.

Menghindari lumpur

Stern menceritakan penjaga Louis pernah berkata bahwa Louis kerap menghindari lumpur, walaupun tidak membawa makanan sekali pun.

"Ketika sedang badai hujan, ia akan berlari melintasi halaman untuk mencari perlindungan. Saat ia tak sengaja menginjak lumpur, Louis akan mencari daun atau selembar kertas untuk membersihkan tangannya sampai bersih," tulis kebun binatang Philadelphia dalam blognya di tahun 2015.

Dikarenakan perilakunya yang ajaib, pihak kebun binatang akhirnya membuatkan jembatan dari selang pemadam kebakaran di kandangnya agar Louis dapat menghindari genangan lumpur.

Penyebab Louis berjalan tegak

Di tahun 2011, seekor gorila di kebun binatang Inggris membuat heboh karena bisa berjalan tegak seperti manusia.

Saat itu, seorang antropolog dari Universitas Indiana, Kevin Hunt, menjelaskan kepada Live Science bahwa kecenderungan gorila berjalan dengan dua kaki adalah masalah kepribadian.

Hunt berkata, gorila di Inggris ini mengikuti perilaku manusia yang sering dilihatnya.

Perilaku ini selaras dengan teori Hunt bahwa manusia berevolusi menjadi bipedal (menggunakan kaki untuk berjalan, berlari) agar bisa lebih efektif dalam mengumpulkan makanan.